Oleh
: LELO YOSEP LAURENTIUS*)
Acara adat Tudak Manuk (bahasa Manggarai = Ayam Perjanjian) akan mengiringi
setiap warga daratan Manggarai-Flores Barat yang akan pergi ke perantauan.
Pemimpin acara ini adalah tetua adat kampung. Dalam Tudak Manuk, harapan akan kesuksesan merupakan sebuah proses
perubahan dari “Lalong Rompok” sampai
“Lalong Rombeng”. Lalong Rompok (bahasa Manggarai) berarti
ayam jago kecil dan mungil. Lalong
Rombeng (bahasa Manggarai) berarti ayam jago besar dan berpengalaman. Proses
perubahan itu berarti seseorang akan pergi dengan tangan kosong, tapi ia pulang
membawa keberhasilan ke kampung halamannya.
Setetes darah dari ayam perjanjian tadi,
yang dioleskan pada ibu jari kaki kiri dan kanan, menjadi tanda harapan
perjanjian dalam perilaku seseorang di mana pun ia berada. Darah itu mengingatkan dia bahwa perilaku yang baik akan mendapatkan
restu dari para leluhur dan keluarga besarnya, tetapi perilaku yang buruk akan mendapatkan
cela, bagi dirinya sendiri, keluarga besar dan para leluhurnya.
Ungkapan Lalong Rompok-Lalong Rombeng menjadi falsafah bagi setiap warga
Manggarai karena ia mengandung sejumlah
rumusan doa untuk keberhasilan seseorang yang meninggalkan tanah kelahirannya.
Melalui Tudak Manuk, Budaya Adat Manggarai mengakui perilaku seseorang
berdampak sosial. Perilaku baik menggandakan keberhasilan. Perilaku buruk
menambah berbagai kesulitan hidup.
Sirkulasi Perubahan
Dalam
perkembangannya, pemaknaan atas ungkapan Lalong
Rompok-Lalong Rombeng, dapat disamakan dengan polemik pemberdayaan sosial,
ekonomi, dan politik warga Manggarai. Bukan
hanya sarana dan mekanisme kerjanya saja yang penting untuk mewujudkan
pemberdayaan dalam berbagai bidang kehidupan.
Tapi, para pelaksananya pun seyogyanya memahami kultur setempat yang
memuat filosofi (visi hidup) tertentu yang mendasari program pemberdayaan itu.
Dalam konteks pemberdayaan warga Manggarai
secara keseluruhan, tradisi Tudak Manuk adalah visi-misi kebaikan bersama dari
masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Itulah sebabnya mengapa proses
perubahan sosial, ekonomi, dan politik di daerah Manggarai selalu terkait
dengan pengalaman keberadaan warganya di perantauan. Misalnya, seorang warga
Manggarai di perantauan seolah-olah terikat dengan sebuah kewajiban moril untuk
mengirim uang kepada anggota keluarganya di kampung. Cara ini merupakan suatu ekspresi
keberhasilannya, namun sekaligus ikut membangun keluarganya serta tetap berkomunikasi
dengan masyarakat asal-usulnya
Bahkan melalui peran para perantau, yang
karena filosofi keberhasilan itu, ikut mempengaruhi pola pikir masyarakat
tradisional menjadi modern. Dulu keluarga keturunan Raja dan Dalu (seorang pemimpin di bawah Raja dan memimpin
beberapa kepala kampung) menjadi pusat
legitimasi untuk memegang kekuasaan publik di Manggarai, namun sekarang
tidaklah demikian. Ketika tiba pagelaran
politis seperti, pilkades, pilkada dan pileg dewasa ini, maka setiap anggota masyarakat yang
merasa diri mampu, bisa leluasa mencalonkan diri, tanpa terikat dengan tatanan
politik menurut strata sosial yang ditradisikan sejak dulu.
Kini, kontribusi warga Manggarai
perantauan terhadap perubahan bukan lagi sebagai tambahan, tapi ia bergerak menjadi
mainstream (arus utama) yang sanggup
menciptakan pola pikir dan visi hidup baru yang lebih baik dan lebih kompetitif
di tingkat regional.
Keberhasilan warga Manggarai perantauan tentu
saja dipengaruhi oleh sentuhan berbagai kultur yang dijumpainya. Maka, mereka membawa masuk berbagai pola
pikir dan gaya hidup lain ke dalam budaya Manggarai. Keberhasilan warga
Manggarai di perantauan bukannya melemahkan visi-misi Tudak Manuk itu, tetapi
visi-misi itu justru semakin diperkaya oleh pertemuan dengan berbagai kultur
lain tentang hidup yang adil dan sejahtera.
*) Akademisi & Praktisi Ilmu Manajemen
*) Akademisi & Praktisi Ilmu Manajemen
Kebanyakan mreka akan sukses jika memiliki kemampuan untuk bertahan
ReplyDeleteOrang yang berhasil dari perantauan akan sangat baik jika menggunakan atau membagi ilmu yang di dapatnya kembali kepada kampung halamannya, sehingga tempat kelahirannya bisa maju
ReplyDeletemempertahankan adat istiadat merupakan salah satu contoh rasa cinta kita kepada suku adat kita sendiri.
ReplyDeleteselama suku adat tersebut masih tidak menyimpang dari norma agama maka tidak salahnya untuk mempertahankannya.
ReplyDelete