Oleh : LELO
YOSEP LAURENTIUS*)
Saya
masih belum menemukan seorang presiden Indonesia sebelumnya yang mau
mengajak dan melakukan secara terbuka cara berhemat untuk pejabat
publik. Presiden Jokowi mencanangkan gerakan hemat menggunakan
anggara negara. Mulai dari istana kepresidenan sampai daerah. Untuk
satu negeri yang penduduknya terbiasa hidup boros di tengah kekayaan
alam berlimpah, ajakan dan praktek hemat Presiden Jokowi ini sangat
mengejutkan rakyat Indonesia umumnya dan para pejabat publik
khususnya.
Gerakan
hemat ini tentu saja rumit bagi semua kalangan. Pasalnya Presiden
Jokowi berani berpropaganda budaya hemat itu pada masyarakat
Indonesia yang sedang kelelahan oleh gaya hidup hedonis dan terbiasa
dengan budaya suap-menyuap untuk berbagai urusan. Tetapi, justru
gerakan hemat inilah salah satu pintu masuk revolusi
mental yang dicanangkan Presiden Jokowi. Revolusi mental pada
hakikatnya adalah sebuah perubahan budaya masyarakat. Dari budaya
boros menjadi budaya hemat dalam berbagai aspek hidup kemasyarakatan.
Barangkali Presiden Jokowi melihat rakyat Indonesia telah kehilangan
naluri ketangguhan untuk bertahan hidup untuk bersaing dengan bangsa
lain melalui penghematan dan pandangan jauh ke depan. Padahal inilah
penopang utama para pionir Indonesia.
Budaya
Hemat Sebagai Sumber Daya
Presiden
Jokowi adalah penganut falsafah bahwa pemerintah itu hakikatnya
adalah ”teladan” masyarakat. Pemerintah sebagai ”teladan”
harus bekerja sehemat mungkin tanpa mengabaikan efisiensi dan
produktifitas. Gerakan hemat sejalan dengan tokoh Resource
Based View, yaitu Barney (1986),
yang mengemukakan bahwa budaya sebagai sebuah sumber daya bisa
menjadi sumber keunggulan bersaing bagi organisasi. Dalam hal gerakan
hemat, Presiden Jokowi menyelaraskan budaya hemat dengan pilihan
kebijakan-kebijakannya yang pro bisnis dan prorakyat.
Apakah
Gerakan Hemat Akan Berhasil?
Gerakan
hemat itu tentu saja terkait erat dengan situasi dan kondisi
Indonesia yang sama dengan bangsa-bangsa semacam Amerika Serikat,
India dan Brasil di mana kekayaan ekstrim berdampingan dengan
kemiskinan yang sangat mencolok. Selain itu, gerakan hemat ini pun
mencuat pada kondisi ketidakstabilan ekonomi pasca Presiden Jokowi
menaikan harga BBM sebesar 30 persen.
Ketidakseimbangan
itu menjadi ancaman stabilitas ekonomi, politik, sosial dan budaya
masyarakat Indonesia berupa kriminalitas yang tinggi, hancurnya
keluarga, kerusahan sosial, rasa putus asa, terorisme bahkan potensi
revolusi. Potensi revolusi sosial itu ada bila mengacu pada paparan
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof
Chaniago, bahwa kesenjangan antara penduduk kaya dan miskin alias
rasio Gini saat ini sudah mencapai 0,43. Bahkan, menurutnya, bahwa
Rasio Gini ini sudah lampu kuning, sama dengan situasi sebelum
meledaknya krisis 1997-1998.
Di
sisi lain, gerakan hemat ini yang pas sejalan dengan kebijakan
kenaikan harga BBM merupakan seni rekayasa sosial untuk mengelola
potensi-potensi anarkis dari ketidakseimbangan yang merembet ke
berbagai sektor di berbagai kalangan masyarakat Indonesia.
Kalau
semua rakyat Indonesia bersedia untuk menyesuaikan dirinya untuk
berbudaya hemat secara menyeluruh, maka kelak bangsa Indonesia
mungkin harus mengakui secara historis, bahwa Presiden Jokowi telah
menghantar bangsa Indonesia sedigdaya RRC. Kedigdayaan RRC tidak bisa
lepas dari kebiasaan hemat warganya dalam berbagai aspek kehidupan
sehari-hari. Kehadiran Presiden ke-7 RI ini menghadirkan pula satu
standar perilaku baru pada revolusi mental rakyat Indonesia.
Kepemimpinan Jokowi telah menularkan keyakinan yang kuat untuk
berhasil lewat program yang tersusun rapi dan keuletan dalam
melaksanakan program itu. Satu perubahan kecil yang vital, itulah
yang sekarang warga Indonesia butuhkan : hemat!
*)Akademisi & Praktisi Ilmu Manajemen
Djumena, E. (2014). “Kesenjangan
Masyarakat Saat Ini Sama dengan Situasi sebelum Krisis 1997.”
dalam
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/12/08/101000426/Kesenjangan.Masyarakat.Saat.Ini.Sama.dengan.Situasi.sebelum.Krisis.1997?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan
[diakses 10 Desember 2014].
Hersey, P. & Blanchard,
K. (1982). Manajemen
Perilaku Organisasi : Pendayagunaan Sumber Daya Manusia.
Edisi Keempat. Alih bahasa: Agus Dharma. Jakarta: Penerbit Erlangga.