Oleh : LELO
YOSEP LAURENTIUS*)
Media massa telah mendiskreditkan Presiden Jokowi dengan
tak kenal ampun selama sebulan terakhir terkait Komjen Polisi Budi Gunawan (BG) sebagai calon tunggal Kapolri yang
disodorkan ke DPR. BG telah menjadi tersangka KPK sejak Selasa 13 Januari 2015 dengan
dugaan kasus korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji selama menjabat
sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode
2003-2006 dan jabatan lainnya di kepolisian. Raja-raja relawan Jokowi-JK di pilpres 2014 serentak mengancam
akan terus menekan Presiden Jokowi bila ia nekat melantik BG menjadi Kapolri.
Barangkali hanya segelintir orang tidak menyadari konspirasi
politik di balik polemik besar BG tersangka KPK menjadi calon Kapolri. Sudah
lama Jokowi tahu bahwa lebih mudah membuat keuntungan politis polemik besar
daripada mengupayakan gerakan kecil berdampak politis terbatas. Polemik BG ini memang
tersangkut aneka kepentingan nasional seperti : hak prerogatif presiden, kekuatan politis Ketum PDIP Megawati, kredibilitas
Kompolnas, legitimasi KPK, keputusan Paripurna DPR-RI, dan kehendak rakyat akan
institusi Polri yang kredibel.
Pada 100 hari pemerintahan Presiden Jokowi, Ketua Umum
PDIP Megawati banyak mengintervensi hak prerogatif presiden terkait kebijakan Jokowi-JK.
Intervensi Megawati mendapat resistensi rakyat secara terbuka soal calon
Kapolri BG menjadi tersangka KPK ini. Seleksi
Kompolnas sesuai amanat UU pun dipertanyakan oleh publik. KPK sejalan dengan
kehendak rakyat tetap menolak BG yang cacat hukum. Tetapi,
keputusan Paripurna DPR-RI justru menerima BG sebagai calon Kapolri.
Dengan tingginya dukungan rakyat, maka Presiden Jokowi
kemungkinan besar akan menggunakan polemik
sebagai bidak catur perebutan kekuasaan politis antara Jokowi dan Megawati di internal
PDIP dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Saya
menilai bahwa langkah Megawati mengintervensi Presiden Jokowi menunjuk BG calon
Kapolri merupakan saat tepat memposisikan Megawati berhadapan dengan publik, hukum
dan politik itu sendiri. Mengapa?
Presiden Jokowi sudah tahu rekam jejak BG di PPATK dan
KPK sejak inisiasi formulasi Kabinet Kerja Jokowi-JK. Waktu itu BG pun menjadi
peserta yang diajukan Presiden Jokowi ke PPATK dan KPK. Catatan PPATK dan KPK
saat itu tidak dipublikasikan kepada publik. Hanya Jokowi-JK yang tahu persis catatan
kuning dan merah atas BG. Kalau Presiden Jokowi menunjuk BG calon tunggal Kapolri
dan sehari kemudian Ketua KPK Abraham Samad menetapkan BG tersangka KPK, maka
polemik BG bukan kebetulan semata. Dua ketetapan yang kontroversial itu membuktikan
adanya rekayasa hubungan simbiosis mutualistis yang sistematis untuk
melokalisasi Megawati di hadapan publik dan hukum.DPR-RI Melokalisasi Megawati
DPR RI menyetujui BG sebagai Kapolri dalam
rapat paripurna pada Kamis 15 Januari 2015, atau sehari setelah Komisi III
menyetujui penunjukan BG. Tetapi, mengapa Presiden Jokowi memilih tunda pelantikan
BG sampai proses hukum terhadap mantan ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri
itu menemui titik yang lebih jelas? Dua keppres yang dibuat pada Jumat sore 16
Januari 2015 adalah keputusan strategis dan taktis Presiden Jokowi untuk mengakomodir
kepentingan para pihak terkait polemik ini, kecuali posisi politis
Megawati. Dua keppres itu untuk memberhentikan
Jenderal (Pol) Sutarman dari jabatan sebagai Kapolri dan Wakil Kepala Polri
Komisaris Jenderal (Pol) Badrodin Haiti ditunjuk sebagai pelaksana tugas
Kapolri. Selain itu, ada konspirasi di
balik kekompakan yang tiba-tiba muncul antara KIH dan Koalisi Merah Putih (KMP)!
KIH dan KMP kemungkinan besar juga merencanakan taktik menggergaji dominasi
Megawati melalui KIH atas Presiden Jokowi. Taktik itu bertujuan melokalisasi
Megawati sekaligus mengganggu soliditas elit PDIP sebagai nahkoda KIH. Selama
ini, KIH sulit bergerak ketika Megawati menahkodai KIH (Baca juga
: Memahami Manajemen Perilaku Politik
Jokowi (Bagian 3) : Figur Pemersatu Koalisi Indonesia Hebat). Polemik ini
merupakan kesempatan tepat untuk melokalisasi posisi Megawati. Anggota KIH menginginkan
flesibilitas Jokowi memimpin KIH. Sedangkan, KMP memang sedang gerah dengan
dominasi Megawati yang menguasai pemerintahan Jokowi-JK.
Konflik Laten Jokowi dan Megawati
Polemik
mengenai suksesi di Polri adalah salah satu fakta adanya konflik tersembunyi
antara Presiden Jokowi dan Ketum PDIP Megawati dalam KIH. Para Elit PDIP menghendaki
BG sebagai calon Kapolri. Sedangkan, rakyat Indonesia melalui para relawannya
menolak mentah-mentah BG menjadi Kapolri. Tarikan kepentingan politis inilah
yang membuat posisi Presiden Jokowi sungguh sulit. ”Hal tersebut sudah diperhatikan, dan sudah
berinteraksi dengan relawan. Harapannya relawan mengerti posisi politik yang
harus dihadapi Presiden,” sebagaimana dikatakan oleh Sekretaris Kabinet Andi
Widjajanto di Istana Kepresidenan dalam KOMPAS.com,
15 Januari 2015. Pernyataan Sekretaris Kabinet itu menandakan sedang terjadi
pertarungan kekuatan antaran Jokowi dan Megawati.
*)Akademisi & Praktisi Ilmu Manajemen
*)Akademisi & Praktisi Ilmu Manajemen
Akuntono, I. (2015). “Kompak Loloskan Budi Gunawan,
KMP Sengaja Beri "Bola Panas" untuk Jokowi.”dalam http://nasional.kompas.com/read/2015/01/15/07415291/Kompak.Loloskan.Budi.Gunawan.KMP.Sengaja.Beri.Bola.Panas.untuk.Jokowiutm_campaign=komread&utm_medium=bp&utm_source=news [diakses 15 Januari 2015].
Asril, S. (2015). “Istana Minta Relawan Pahami Posisi Sulit Presiden
Jokowi.”dalam http://nasional.kompas.com/read/2015/01/15/22375641/Istana.Minta.Relawan.Pahami.Posisi.Sulit.Presiden.Jokowi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp [diakses 16 Januari 2015].
Gabrillin, A. (2015). ”Jika Paksakan Pelantikan Budi
Gunawan, PDI-P Akan Berhadapan dengan Publik.” dalam http://nasional.kompas.com/read/2015/01/30/13215961/Jika.Paksakan.Pelantikan.Budi.Gunawan.PDI-P.Akan.Berhadapan.dengan.Publik [diakses 30 Januari 2015].
Hersey, P. & Blanchard, K. (1982). Manajemen Perilaku Organisasi :
Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Edisi Keempat. Alih bahasa: Agus
Dharma. Jakarta: Penerbit Erlangga.