Monday, December 23, 2019

Manajemen Perilaku Politik Presiden Jokowi: Bedah Eksploitasi & Kinerja BUMN

Oleh: LELO YOSEP LAURENTIUS*)

        Rakyat Indonesia telah mencium adanya kasus percintaan di antara mantan Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (atau lebih dikenal dengan nama Ari Askhara) dan mantan salah satu pramugari Garuda Indonesia. Pada mulanya pasti AA dan pramugari itu berhubungan dengan hati-hati. Bagaimana hubungan itu tercium oleh publik? Kemungkinan karena hubungan itu telah melampaui batas selama jam kerja! Lebih buruk lagi, publik juga telah mulai mendengar desas-desus bahwa telah terjadi hubungan percintaan lain di antara para eksekutif dan karyawan di sejumlah BUMN. Berbagai bentuk ekspoitasi di berbagai organisasi oleh atasan terhadap bawahan adalah kasus klasik. Saya berpendapat bahwa dinamika dalam hubungan seperti ini biasanya bukan hanya masalah pribadi dan seksual, tetapi juga berhubungan dengan kekuasaan. 

Solusi klasik yang efektif
       Bagaimana menganalisis keputusan Menteri BUMN Erick Thohir yang memecat lima direksi Garuda Indonesia, yaitu Direktur Utama Ari Askhara, Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, dan Direktur Human Capital Heri Akhyar, dan Direktur Operasi Bambang Adisurya Angkasa dari perspektif strategi pengembangan organisasi BUMN? Keputusan pemecatan itu merupakan solusi sederhana. Walaupun solusinya sederhana, tetapi keputusan itu luar biasa karena hal itu akan menjadi langkah awal untuk membersihkan semua kekacauan sistemik di  Garuda Indonesia dan BUMN lainnya. 
       Di sisi lain, saya sebagai akademisi dan praktisi manajemen, ingin sekali mengetahui apakah permainan eksploitatif asmara para eksekutif BUMN ini merupakan gejala suatu masalah yang lebih dalam di sistem organisasi BUMN?  Saya berasumsi bahwa jika hal ini terjadi di level eksekutif puncak sebagai posisi kritis untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi, maka perilaku itu menunjukkan bahwa ada sesuatu di dalam nilai bersama semua BUMN yang mendorong orang untuk saling memanfaatkan satu sama lain, baik dari internal maupun dari eksternal organisasi BUMN.

Lingkaran setan eksplotasi
        Ada beberapa pertanyaan terkait eksplotasi dan kinerja. Sejauh mana orang bersedia menerima eksploitasi? Apakah tingkat eksploitasi di seluruh level organisasi BUMN telah tinggi? Dalam hal apa keadaan eksplotatif bermanfaat, dan bagi siapa? Narasi imajinatif singkat berikut ini barangkali bisa menjawab aneka pertanyaan tadi. 
        Para pemenang kompetisi di organisasi dengan kultur eksploitatif seperti itu adalah orang-orang yang lebih muda, yang menarik bagi orang yang lebih tua dan berkuasa dan memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keagresifan untuk mengambil risiko eksploitasi tersebut.  Mereka akan mengembalikannya kepada orang yang lebih tua, mencari keuntungan sebanyak mungkin dari transaksi relasi ini. Sedangkan, yang menjadi korban adalah orang-orang yang bekerja keras dari semua kelompok usia yang matanya tertutup atau pura-pura tidak peduli demi keselamatan diri sementara. Para korban ini tidak akan dapat menang karena orang-orang yang mau mengikuti eksploitasi tersebut telah mendapatkan penugasan khusus, informasi dari dalam, dan promosi yang lebih cepat.

Kepiawaian Presiden Jokowi
        Nah, kita telah melihat bahwa praktek eksploitasi dan kekacauan kinerja, baik individu maupun organisasi, saling berhubungan erat. Praktek eksploitasi dan kekacauan kinerja di Garuda Indonesia, misalnya, telah menciptakan beban utang pada neraca negara setiap tahun dan krisis sistemik pada tata kelola organisasinya .  Hal serupa pun terjadi di organisasi BUMN lainnya. Kita harus mendukung kebijakan Menteri BUMN Erick Thohir karena kita tidak boleh lagi membiarkan semua BUMN memiliki praktek eksploitasi dan kekacauan kinerja yang merugikan NKRI. NKRI adalah rakyat Indonesia. Transformasi di Garuda Indonesia, misalnya, berdampak langsung pada kebijakan Kementerian Perhubungan untuk meminta maskapai penerbangan untuk memberikan diskon tiket sebesar 30 persen dalam rangka pelaksanaan libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Mengapa Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membidik Garuda Indonesia supaya memberi diskon tiket sebesar 30 persen untuk semua penerbangan? Kementerian Perhubungan mengakui bahwa maskapai lain akan segera mengikuti langkah maskapai Garuda Indonesia kalau Garuda sudah melaksanakan kebijakan tersebut. Kebijakan Menteri BUMN Erick Thohir mendorong Kementerian Perhubungan menciptakan koordinasi dengan kementerian BUMN dan kementerian ESDM dalam rangka rebalancing harga avtur di Indonesia dengan satu misi menciptakan kebijakan berkelanjutan untuk memberi harga tiket yang terjangkau bagi masyarakat.
        Semua kejujuran, keberanian dan keberhasilan Menteri BUMN Erick Thohir merupakan salah satu bukti kepiawaian Presiden Jokowi untuk memilih orang jujur dan berkompetensi untuk melakukan transformasi di semua organisasi BUMN. 

*)Akademisi & Praktisi Ilmu Manajemen