Oleh : LELO YOSEP
LAURENTIUS*)
Sejauh ini, ingatan mayoritas rakyat Indonesia
mengasumsikan Presiden Jokowi adalah arsitek kebangkitan petani, nelayan,
dan buruh demi NKRI yang tangguh dan kompetitif di tingkat secara lokal, regional, nasional bahkan internasional. Mereka juga berasumsi bahwa Presiden Jokowi berkepandaian mengubah kekurangan yang
ada di depannya menjadi aset.
Persoalannya apakah duet Jokowi-JK mampu mengurai berbagai kekurangan di berbagai sektor akibat kemiskinan struktural warisan beberapa pemerintahan sebelumnya yang cukup pelik?Seperti utang luar negeri dan dalam negeri sekitar Rp 3.000 triliun, cicilan dan bunga terkait kasus BLBI Rp 60 triliun, subsidi bahan bakar minyak (BBM) Rp 300 triliun. Belum lagi subsidi di luar BBM yang keseluruhan bisa 20 persen APBN. Juga sektor perbankan, pertambangan dan energi, kehutanan, perikanan, telekomunikasi yang banyak dikuasai asing?
Di sisi lain, saat ini ada sekitar 10.600 desa nelayan miskin yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Situasi dan kondisi desa-desa nelayan miskin tersebut tentu saja sebuah ironi memilukan bagi Indonesia karena wilayah NKRI 70 persen perairannya memiliki potensi strategis. Jika program Bedah Kampung Nelayan adalah salah satu program pembebasan warga Indonesia dari sekian masalah pelik tadi, maka kemaritiman yang memberikan beberapa terobosan spektakuler bagi Jokowi-JK sungguh bisa membangkitkan kejayaan kemaritimtim Indonesia sebagai negara adidaya dan mandiri di tingkat internasional.
Persoalannya apakah duet Jokowi-JK mampu mengurai berbagai kekurangan di berbagai sektor akibat kemiskinan struktural warisan beberapa pemerintahan sebelumnya yang cukup pelik?Seperti utang luar negeri dan dalam negeri sekitar Rp 3.000 triliun, cicilan dan bunga terkait kasus BLBI Rp 60 triliun, subsidi bahan bakar minyak (BBM) Rp 300 triliun. Belum lagi subsidi di luar BBM yang keseluruhan bisa 20 persen APBN. Juga sektor perbankan, pertambangan dan energi, kehutanan, perikanan, telekomunikasi yang banyak dikuasai asing?
Di sisi lain, saat ini ada sekitar 10.600 desa nelayan miskin yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Situasi dan kondisi desa-desa nelayan miskin tersebut tentu saja sebuah ironi memilukan bagi Indonesia karena wilayah NKRI 70 persen perairannya memiliki potensi strategis. Jika program Bedah Kampung Nelayan adalah salah satu program pembebasan warga Indonesia dari sekian masalah pelik tadi, maka kemaritiman yang memberikan beberapa terobosan spektakuler bagi Jokowi-JK sungguh bisa membangkitkan kejayaan kemaritimtim Indonesia sebagai negara adidaya dan mandiri di tingkat internasional.
Diplomasi Blusukan
Presiden Jokowi
adalah laki-laki yang sabar. Ia rela menerima relawan utusan untuk mendiskusikan
syarat-syarat perjanjian program kerja yang berdampak multiaspek terhadap
kehidupan warga, baik di Solo maupun di Jakarta. Di DKI Jakarta selaku Gubernur
(2012-2014) Jokowi pernah menggambarkan dirinya sebagai seorang laki-laki yang
memiliki masalah, yakni dengan para jajaran PNS DKI Jakarta yang tidak sabar
dan teliti dalam bekerja berhadapan dengan warga masyarakat.
Mungkin krisis KKN-lah yang memicu Jokowi untuk
melakukan upayanya sendiri mendapatkan kekuasaan lebih besar untuk membangun Indonesia
dari posisi kekuasaan presiden. Saat blusukan, misalnya, Jokowi telah
memiliki basis kekuatan sendiri, dalam bentuk kelompok-kelompok relawan militan
yang selalu siaga berjuang demi Jokowi.
Mereka semua mengelilingi Jokowi atas sesuatu yang lebih daripada
sekadar ketertarikan pada kesahajaannya. Kesahajaan mereka pasti lebih rendah
dari Jokowi kendatipun mereka tidak memiliki uang dan kekuasaan seperti para
kader partai politik di sekitar Jokowi. Blusukan
Jokowi telah membagi masing-masing kelompok relawan memiliki perannya
masing-masing. Jokowi mendapatkan kekuatan dukungan dari seluruh wilayah
nusantara, mulai dari Sabang sampai Merauke.
Presiden Jokowi mencanangkan kebijakan perbaikan terhadap 1.000 perkampungan kumuh nelayan karena hasil blusukannya sendiri. Anggaran yang akan digunakan untuk pembenahan kampung kumuh nelayan adalah dana kombinasi dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), corporate social responsibility (CSR) atau pertanggungjawaban sosial dan pihak swasta. Demi pembenahan itu, Presiden Jokowi juga akan mengarahkan Bank Rakyat Indonesia untuk membuka teras atau kantor cabang di daerah kampung kumuh nelayan untuk memastikan bahwa para nelayan memiliki modal kerja.
Presiden Jokowi mencanangkan kebijakan perbaikan terhadap 1.000 perkampungan kumuh nelayan karena hasil blusukannya sendiri. Anggaran yang akan digunakan untuk pembenahan kampung kumuh nelayan adalah dana kombinasi dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), corporate social responsibility (CSR) atau pertanggungjawaban sosial dan pihak swasta. Demi pembenahan itu, Presiden Jokowi juga akan mengarahkan Bank Rakyat Indonesia untuk membuka teras atau kantor cabang di daerah kampung kumuh nelayan untuk memastikan bahwa para nelayan memiliki modal kerja.
Kemaritiman dan Klinik Desa Nelayam
Sebagaimana yang sering
dilakukan pemimpin, Presiden Jokowi pun mendorong kepercayaan publik terhadap dirinya
dengan membuat program monumental “Bedah Kampung Nelayan”. Program ini bertujuan membesarkan NKRI dengan
menitikberatkan
pembangunan Indonesia dari segi kemaritiman.
Laut
merupakan halaman depan NKRI. Visi-misi
Jokowi-JK sepertinya mengakselerasi kemaritiman di Indonesia agar bisa maju
pesat, baik itu dari segi jalur perdagangan, transportasi dan tentunya
meningkatkan kesejahteraan para nelayan tradisional di Indonesia. Progam “Bedah Kampung Nelayan” merupakan
klinik kamaritiman dalam pemerintahan Jokowi-JK 2014-2019.
Klinik ini
dinahkodai oleh pembentukan Kementerian Maritim. Kementerian baru. Terdapat lima
program utama yang hendak dicapai dengan pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
Republik Indonesia. Pertama, penguatan budaya maritim
nasional yang selama ini hilang oleh budaya agraris. Kedua, meletakkan nelayan sebagai pilar dari kedaulatan pangan
nasional. Ketiga, membangun
infrastruktur maritim (atau bahasanya Jokowi adalah tol laut). Keempat, melaksanakan keamanan laut
terintegrasi. Kelima, menjadikan kekuatan diplomasi maritim, yaitu menggunakan
posisi geografis Indonesia yang strategis, seperti terletak di apitan dua
samudera, menjadi kekuatan diplomasi.
*)Praktisi & Akademisi Ilmu Manajemen
Hersey, P. & Blanchard, K. (1982). Manajemen Perilaku Organisasi : Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Edisi
Keempat. Alih bahasa: Agus Dharma.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sihaloho, M.J., Ina, ED
(2014). “Ini Penjelasan Tim Transisi
Jokowi-JK soal Kementerian Maritim.” dalam http://www.beritasatu.com/nasional/210591-ini-penjelasan-tim-transisi-jokowijk-soal-kementerian-maritim.html [diakses 28
Oktober 2014].